Penduduk Singapura berjumlah 5,87 juta jiwa (Worldometer, 2025), dengan umat Islam diperkirakan sekitar 15,6% dari total populasi — terdiri dari etnis Melayu, India, dan komunitas lain, mayoritas mazhab Sunni (Syafi'i-Hanafi).
Sejarah Wakaf di Singapura
Meski populasi muslimnya minoritas, wakaf di Singapura tidak kalah produktif — berkembang sejak berdirinya negara tersebut, tercatat sejak 1819. Imigran dari Hadramaut (Yaman) berperan besar, di antaranya dua saudagar dari Palembang, Syed Mohammed bin Harun Aljunied dan keponakannya Syed Omar bin Ali Aljunied.
Wakaf berwujud Masjid Omar Kampung Melaka, Masjid Bancoleen, dan properti lainnya. Bersama keluarga Al-Kaff dan Alsagoff, mereka berkontribusi membangun rumah, sekolah, dan fasilitas bagi imigran dari berbagai latar belakang hingga wakaf terus berkembang sepanjang abad ke-19.
Tahun 1966 terjadi sentralisasi: seluruh aset wakaf wajib diregistrasi oleh Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS), yang berperan sebagai regulator berpedoman pada AMLA (UU Administrasi Hukum Islam) untuk memastikan keberadaan dan hasil maksimal aset wakaf.
Melalui AMLA, lahir Waqf Real Estate Singapura (Warees) pada 2001. Warees Investment Pte Ltd fokus mengelola fungsi komersial aset wakaf, sementara MUIS leluasa menjalankan regulasi dan distribusi hasil. Hingga 2024, MUIS diperkirakan mengelola 156 properti wakaf senilai sekitar S$800 miliar (≈Rp10.207 triliun).
Bagaimana dengan Indonesia?
Bagaimana dengan Indonesia? Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) dinobatkan pemenang IsDB Prize for Impactful Achievement in Islamic Economics 2023 — hasil kontribusi Kemenag, BWI, KNEKS, BI, Kemenkeu, dan para wakif sejak Private Placement 2020.
Untuk wakaf korporat, Medikids Wakaf meraih IsDB Prize 2025 (kategori Development Solution Achievement) dan BWI Award 2025 (kategori Nazhir Program Wakaf Produktif Terinovatif) atas inovasi klinik gigi berbasis wakaf produktif. Didirikan 2018, Medikids mencapai stabilitas keuangan dalam tiga tahun dan meluncurkan program beasiswa tenaga kesehatan di tahun keduanya.