Bisnis (tijarah) merupakan salah satu komponen utama dalam sistem muamalah. Oleh sebab itu, Islam menganjurkan pemeluknya untuk menggeluti bidang ini secara profesional (itqan), sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya dan orang lain secara umum. Untuk membangun kultur bisnis yang sehat, idealnya dimulai dari perumusan etika yang digunakan sebagai norma perilaku sebelum aturan (hukum).
Integritas berasal dari bahasa Latin "integer" yang artinya utuh dan lengkap — memerlukan perasaan batin yang menunjukkan keutuhan dan konsistensi karakter. Dalam etika, integritas dianggap sebagai kejujuran dan kebenaran atau ketepatan tindakan pada diri seseorang: memenuhi komitmen, menunjukkan kejujuran, dan mengerjakan sesuatu dengan penuh konsisten.
Teladan Rasulullah dan Para Sahabat
Salah satu strategi bisnis yang paling efektif yang diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah kejujuran dan integritas — beliau selalu menjaga integritas dalam setiap transaksi bisnis yang dilakukan. Jika menggunakan konsep Stephen Covey dalam "The Seven Habits", Rasulullah sesungguhnya memiliki karakter pebisnis sejak usia muda — menggembala kambing di usia 8 tahun, dan berdagang di usia 12 tahun. Afzalul Rahman dalam buku Muhammad A Trader mengungkapkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah pedagang yang jujur dan adil, tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh, selalu menepati janji, dan tepat waktu dalam pengiriman barang.
Sahabat Utsman bin Affan selalu terjun langsung dalam mengelola bisnisnya agar mengetahui kondisi dan permasalahan yang terjadi. Ia memiliki visi jangka panjang, tidak hanya memikirkan keuntungan semata, tetapi juga cara membangun reputasi baik dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar — misalnya memberikan pendanaan untuk mensponsori mobilisasi kaum muslimin dalam Perang Tabuk.
Abdurrahman bin Auf tidak pernah menggunakan modal dalam bentuk uang untuk membangun bisnisnya — modal yang ia bawa hanya integritas moral dan sosial. Ia melakukan penawaran kerja sama pemasaran dan distribusi produk kepada sebuah toko tanpa meminta banyak pembagian hasil, justru itu yang membuatnya mendapatkan banyak keuntungan karena pemilik toko merasa terbantu meningkatkan penjualan mereka — mengajarkan hubungan kemitraan bisnis dengan orientasi integritas yang baik.
Pelajaran bagi Nazhir
Berdasarkan perjalanan bisnis Rasulullah dan para sahabat di atas, ada beberapa catatan penting bagi nazhir dalam mengelola aset dengan pendekatan bisnis: pertama, nazhir harus punya karakter bisnis dalam mengelola dan mengembangkan aset wakaf untuk membawa optimalisasi pengelolaan; kedua, nazhir harus memiliki integritas dan kejujuran, karena nilai kejujuran akan menjaga keberlanjutan pengelolaan aset wakaf; ketiga, orientasi berbasis profit dan manfaat — nazhir tetap harus memperhatikan kemanfaatan harta wakaf bagi mauquf alaih dan tidak semata berorientasi profit; keempat, model kerja sama dan kemitraan harus dibangun sebagaimana dilakukan Abdurrahman bin Auf — jangan pernah nazhir berpikir sendiri dalam pengelolaan aset, tetapi harus membangun sinergi dan jaringan kerja sama seluas-luasnya untuk memperluas portofolio aset wakaf.