Kewirausahaan Islami merupakan bagian integral dari Islam dan bagian dari ibadah — mendorong manusia untuk terjun ke dunia bisnis dengan prinsip yang berasal dari Al-Qur'an dan Hadits, dilandasi keteladanan Nabi Muhammad ﷺ.
Bermula dari Sembilan Sekutu dan Mitra Ke-10
Ir. Sholah Al Athiyah adalah seorang pemuda dari kota kecil Tafahna Al Asyrof, Mesir, lulusan pertanian. Bersama sembilan rekannya ia sepakat memulai bisnis unggas dan perkebunan, namun terkendala modal — hingga akhirnya berhasil mendapatkan modal dari hasil menjual perhiasan istri, tanah mereka, dan meminjam dana dari sumber lain.
Pertanyaan yang muncul: siapa mitra ke-10? Ir. Sholah Al Athiyah berpendapat mitra ke-10 adalah Ar-Razzaq, Allah Azza wa Jalla — 10% dari hasil usaha dipersembahkan kepada-Nya, dicatatkan lengkap ke notaris. Tidak disangka, setelah satu musim, bisnis mereka mendapat profit jauh melebihi proyeksi.
Persentase yang dipersembahkan terus ditingkatkan — 20%, hingga mencapai 50% di periode-periode berikutnya. Profit mitra ke-10 ini dialokasikan untuk mendirikan Sekolah Dasar Islam, Sekolah Menengah Islam, dan Madrasah Aliyah, hingga akhirnya mereka membentuk Baitul Maal.
Dari Baitul Maal ke Universitas
Mereka mengajukan pendirian universitas di kota Tahfanah, sempat ditolak pemerintah karena tidak ada akses transportasi — namun tetap diajukan lengkap dengan rencana kereta api dan stasiun dibiayai dari hasil usaha. Pengajuan akhirnya diterima, dan berdirilah untuk pertama kalinya universitas di kota kecil tersebut — cabang Universitas Al-Azhar di Tafahnah, lengkap dengan asrama putri (600 kamar) dan putra (1.000 kamar), dengan biaya kereta digratiskan.
Warisan Sang Nazhir
Dari pemilik bisnis hingga menjadi "pegawai" Allah Azza wa Jalla. Dari bos hingga menjadi nazhir — profesi tertinggi dari seorang pebisnis, sebagaimana perkataan Imam Ibnul Qayyim: "Barangsiapa yang bercita-cita untuk meraih perkara-perkara yang tinggi, maka wajib baginya untuk menekan kuat kecintaan kepada perkara-perkara yang rendah (dunia)."
Dampak bisnis Ir. Sholah Athiyah — infrastruktur, lembaga keuangan, dan pendidikan — membantu mengentaskan kemiskinan di Tafahna Al-Asyraf, bahkan menyediakan sayuran gratis setiap panen dan pelatihan bagi pemuda pengangguran. Setelah wafat pada 2016, pemakamannya dihadiri ratusan ribu orang yang merasa terbantu oleh kebaikannya semasa hidup.